Cara Menghilangkan Pengaruh ‘Ain, Pelet dan Sihir Sesuai Syariah

Cara Menghilangkan Pengaruh ‘Ain, Pelet dan Sihir Sesuai Syariah

Cara Menghilangkan Pengaruh ‘Ain, Pelet dan Sihir Sesuai Syariah

Cara Menghilangkan Pengaruh ‘Ain, Pelet dan Sihir Sesuai Syariah

Cara Menghilangkan Pengaruh ‘Ain, Pelet dan Sihir Sesuai Syariah
Cara Menghilangkan Pengaruh ‘Ain, Pelet dan Sihir Sesuai Syariah

Cara Menghilangkan Pengaruh ‘Ain, Pelet dan Sihir Sesuai Syariah

 

Penyakit yang datang itu memang bisa jadi karena pengaruh sihir. Bisa jadi pula pengaruh ‘ain (mata), atau yang dinamakan orang dengan nazhlah dan nafs. Mungkin juga karena penyakit lain

Ciri-ciri seseorang yang terkena pelet, baik laki-laki maupun perempuan:

  1. Rasa cinta yang menggebu-gebu di luar kewajaran terhadap seseorang
  2. Keinginan yang sangat kuat untuk memperbanyak jima’/hubungan seks
  3. Rasa rindu yang amat sangat untuk selalu bertemu orang yang memeletnya
  4. Sering sakit, pusing yang berkepanjangan, sakit kepala, juga sakit terutama di daerah pundak, sakit lambung tanpa ada sebab secara medis, dll
  5. Sering mengeluarkan air mata tanpa sebab, terutama ketika membayangkan wajah orang yang memeletnya
  6. Terobsesi dan bersedia melakukan apapun yang diperintahkan orang yang memeletnya
  7. Merasa sakit atau tidak nyaman, namun rasa tersebut hilang ketika bertemu dengan yang memeletnya
  8. Mulai kehilangan selera makan

Dalam ajaran Islam, tidak diperkenankan mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal serta bertanya kepada mereka. Jadi, perbuatan anda mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal merupakan perkara yang tidak diperbolehkan. Anda benar-benar telah berbuat salah. Anda harus bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Siapa yang mendatang ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

‘Arraf adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara-perkara (ghaib), dengan bantuan jin, dengan cara gaib atau tersembunyi. Orang seperti ini tidak boleh dijadikan tempat bertanya (ketika ada masalah) dan tidak boleh dibenarkan, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Siapa yang mendatangi ‘arraf atau kahin (dukun) lalu ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka orang itu telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

Maka tidak boleh mendatangi kahin (dukun), tidak pula tukang sihir, serta bertanya kepada mereka. Namun, anda bisa berobat kepada tabib (dokter) yang ma’ruf (dikenal) yang bisa jadi mengetahui obat apa yang dikenal bisa menyembuhkan perkara-perkara tersebut, baik berupa suntikan, pil, atau yang lainnya. Atau anda bisa mendatangi seorang pembaca Al-Qur’an (seorang laki-laki shaleh atau wanita shalihah) yang akan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an (pada tangannya) lalu meniup-niupnya dan diusapkan kepada anda.

Tentunya meminta bantuan kepada laki-laki shaleh atau wanita shalihah untuk mengobati anda lebih diutamakan (karena kalian sama-sama laki-laki atau sama-sama wanita) dari pada memintanya kepada seorang lelaki kepada seorang wanita atau seorang wanita kepada seorang laki-laki. Semoga dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan pengaruh ‘ain atau sihir tersebut. Kalau terpaksa semisal seorang wanita berobat kepada seorang lelaki atau sebaliknya, maka jangan sampai terjadi khalwat (berdua-duaan dengannya). Anda harus disertai orang lain, baik ibu anda, saudara laki-laki anda, ayah anda atau semisal mereka. Orang itu cukup membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan anda mendengarkannya.

Mungkin pula pengobatan dengan cara menyediakan air dalam wadah, lalu dibacakan padanya ayat-ayat berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِينَ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرٰطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرٰطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّينَ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai hari pembalasan.
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Qs. Al-Faatihah : 1-7)

اللهُ لَا اِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهٗ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهٗ إِلَّا بِإِذْنِهٖ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهٖ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهٗ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Ayat Kursi/Qs. Al-Baqarah: 255)

وَأوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ
وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ
قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ

“Dan Kami wahyukan kepada Musa: ‘Lemparkanlah tongkatmu!’ Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.
Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan.
Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.
Dan ahli-abli sihir itu serta-merta meniarapkan diri dengan bersujud.
Mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Rabb semesta alam,
(yaitu) Rabb Musa dan Harun.’” (Qs. al-A’raaf: 117-122)

فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ
وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

“Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata kepada mereka: ‘Apa yang kamu lakukan itu adalah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidakbenarannya’, Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan.
Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).” (Qs. Yunus: 81-82)

وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

“Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. ‘Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang’.” (Qs. Thaha: 69)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ
لآَأَعْبُدُ مَاتَعْبُدُونَ
وَلآَأَنتُمْ عَابِدُونَ مَآأَعْبُدُ
وَلآَأَنَا عَابِدُُ مَّاعَبَدتُّمْ
وَلآَأَنتُمْ عَابِدُونَ مَآأَعْبُدُ
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Katakanlah, ‘Wahai orang-orang kafir!.
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah.
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku’.” (Qs. Al-Kafiruun: 1-6)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
اللَّهُ الصَّمَدُ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Katakanlah, ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,
Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia’.” (Qs. Al-Ikhlas: 1-4)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Katakanlah: ‘Aku memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.
Menghadapi tipu daya makhluk-makhluk,
Serta menghadapi tipu daya kegelapan apabila telah menyelimuti,
Serta menghadapi tipu daya tukang-tukang sihir yang mengucap mantra-mantra,
Serta menghadapi tipu daya penghasut apabila ia mendengki’.” (Qs. Al-Ikhlas: 1-5)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
مَلِكِ النَّاسِ
إِلَٰهِ النَّاسِ
مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
Raja manusia.
Sembahan manusia.
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
Dari (golongan) jin dan manusia.’.” (Qs. An-Naas: 1-6)

Dibacakan pula di air tersebut doa-doa berikut:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ
أَذْهِبِ الْبَأْسَ
وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي
لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ
شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ
وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ
اللهُ يَشْفِيْكَ
بِسْمِ اللهِ أُرْقِيْكَ

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan/penyakit ini, sembuhkanlah. Sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dengan kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.
Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakiti/mengganggumu, dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang hasad, semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.”

Doa ini dibaca tiga kali, karena doa ini tsabit (pasti datangnya) dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (sebagaimana termuat dalam Ash-Shahihah)

Bila orang yang mengobati anda telah melakukan hal di atas, maka sebagian air itu anda minum, sisanya untuk membasuh tubuh anda. Pengobatan seperti ini mujarab untuk menyembuhkan pengaruh sihir dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula untuk mengobati seorang suami yang tercegah (tidak dapat) untuk menggauli istrinya. Juga untuk pengobatan ‘ain, karena ‘ain itu diobati dengan ruqyah sebagaimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ

“Tidak ada pengobatan dengan ruqyah (yang paling tampak hasilnya/mujarab) kecuali dari pengaruh ‘ain atau sengatan binatang berbisa.”

Pengobatan seperti di atas merupakan faktor-faktor kesembuhan yang terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya bermanfaat.

Bisa pula pengobatan dengan cara mencampur air dengan tujuh daun sidr (bidara) hijau yang telah ditumbuk, lalu dibacakan bacaan-bacaan yang telah disebutkan di atas. Pengobatan seperti ini terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan bermanfaat. Dan kami telah melakukannya untuk mengobati banyak orang, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menjadikannya bermanfaat. Cara ini disebutkan oleh ulama, di antaranya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh penulis kitab Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid. Beliau sebutkan dalam bab Ma Ja’a fin Nusyrah. Bila anda memiliki kitabnya, silahkan menelaahnya. Atau tanyakan kepada orang-orang yang berilmu dien, mereka insya’ Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menunaikan apa yang pantas.

Adapun kepada tukang sihir, kahin dan ‘arraf, janganlah anda bertanya dan membenarkan mereka. Hendaknya anda menemui orang-orang yang berilmu haq dan para pembaca Al-Qur’an yang dikenal dengan kebaikan, sehingga mereka mengobati anda dengan bacaan-bacaan ruqyah. Atau anda mendatangi lelaki-lelaki sholeh atau wanita-wanita shalihah dari kalangan pengajar/guru agama dan selain mereka yang dikenal dengan kebaikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kesembuhan dan kesehatan kepada anda dengan sebab-sebab tersebut.

Termasuk perkara yang sepantasnya anda amalkan adalah berdoa. Anda mohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menghilangkan gangguan yang menimpa anda, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai bila diajukan permintaan pada-Nya. Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Qs. Ghafir: 60)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Qs. Al-Baqarah: 186)

Sepantasnya anda mohon kesehatan dan kesembuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula suami anda, ayah dan ibu anda, karena seorang mukmin itu seharusnya mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Doa itu senjata orang mukmin, dan Allah ‘Azza wa Jalla sendiri telah menjanjikan untuk mengabulkan doa. Maka anda harus bersungguh-sungguh dan jujur dalam doa anda, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi kesembuhan.

Selain itu, aku nasehatkan agar menjelang tidur, anda menggabungkan dua telapak tangan anda, lalu meniupnya dengan sedikit meludah dengan membacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, tiga kali. Setelahnya dengan kedua telapak tangan tersebut anda mengusap kepala, wajah dan dada (berikut apa yang bisa dicapai oleh kedua telapak tangan dari bagian tubuh), dilakukan sebanyak tiga kali. Perbuatan seperti ini termasuk sebab kesembuhan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya saat menjelang tidur dan ketika sakit, sebagaimana disebutkan dalam berita yang shahih dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa (dan ketika sakitnya bertambah parah, beliau memerintahkan ‘Aisyah agar melakukannya untuk beliau2).

Semoga Bermanfaat

Sumber: Ulama Sunnah

Cara Menghilangkan Pengaruh ‘Ain, Pelet dan Sihir Sesuai Syariah
5 (100%) 13 votes
Asep Rohimat

Seorang pemrogram komputer yang suka mengerjakan proyek-proyek minimalis.

4 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

Januari 19, 2019 - 03:42

Spot on with this write-up, I seriously believe that this
amazing site needs much more attention. I’ll
probably be back again to read more, thanks for the information!

Balas
Januari 19, 2019 - 05:35

You’re welcome Sis

Balas
Maret 04, 2019 - 07:03

What’s Happening i am new to this, I stumbled upon this I’ve discovered
It positively helpful and it has aided me out loads. I am hoping to contribute &
aid other customers like its helped me. Good job.

Balas

cat hat

Maret 05, 2019 - 17:33

I the efforts you have put in this, thanks for all the great blog posts.

Balas

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *