Hukum Melantunkan Nyanyian Menurut Islam

Hukum Melantunkan Nyanyian Menurut Islam

Hukum Melantunkan Nyanyian Menurut Islam

Hukum Melantunkan Nyanyian Menurut Islam

Hukum Melantunkan Nyanyian Menurut Islam
Hukum Melantunkan Nyanyian Menurut Islam

Hukum Melantunkan Nyanyian Menurut Islam

Dalil dan Hadits Yang Mengharamkan Nyayian

Berdasarkan firman Allah dalam QS. Luqman:6, artinya: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”

Hadits Aisyah RA Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjual-belikannya, mempelajarinya atau mendengarkannya.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas. (HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih)

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat, yaitu: 1. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan seruling syaitan (mazamirus syaithan). 2. Ratapan seorang ketika mendapat musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan merobek pakaiannya dengan ratapan syetan (rannatus syaithan).”

Dalil dan Hadits Yang Menghalalkan Nyanyian

Firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah:87, artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra ber-kata: “Nabi SAW mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar”. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi SAW yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi SAW bersabda: “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” (HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî , juz. III, hal. 113, dari Aisyah RA)

Atas dasar itu kedua dalil dan Hadits yang seolah bertentangan di atas dapat kita pahami bahwa nyanyian haram didasarkan pada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian, yaitu nyanyian yang disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan (fi’il), atau sarana (asy-yaa`), misalnya disertai khamr, zina, penampakan aurat, ikhtilath (campur baur pria dan wanita), atau syairnya yang bertentangan dengan syara, misalnya mengajak pacaran, mendukung pergaulan bebas, mempropagandakan sekulerisme, liberalisme, nasionalisme, dan sebagainya.

Sedangkan nyanyian halal didasarkan pada dalil-dalil yang menghalalkan, yaitu nyanyian yang kriterianya adalah bersih dari unsur kemaksiatan atau kemunkaran. Misalnya nyanyian yang syairnya memuji sifat-sifat Allah SWT, mendorong orang meneladani Rasul, mengajak taubat dari judi, mengajak menuntut ilmu, menceritakan keindahan alam semesta, dan semisalnya.

Mudah-mudahan dengan mengetahui hukum melantunkan nyanyian diatas bagi yang berkiprah di dunia musik ataupun yang suka mendengarkannya dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk kita nyanyikan/dengarkan, sehingga kita bisa bermuhasabah (mawas diri/mengkoreksi diri).

Semoga apa yang saya bagikan ini dapat bermanfaat untuk kita semua

Asep Rohimat

Seorang pemrogram komputer yang suka mengerjakan proyek-proyek minimalis.

4 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

Januari 22, 2019 - 03:06

Everything is very open with a really clear clarification of the
challenges. It was truly informative. Your site is very helpful.
Thank you for sharing!

Balas
Januari 22, 2019 - 10:16

Mantap blog mu kawan…

Balas
Januari 22, 2019 - 12:53

Makasih, kak.

Balas
Januari 23, 2019 - 22:03

waduh aku mbaca tulisan ini sambil dengerin musik loh padahal, haha

Balas

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *